Kajian Fauna Nyamuk di Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut


Salah satu kegiatan rutin yang tiap tahun dilakukan oleh tim Laboratorium Penelitian Kesehatan Loka Litbang P2B2 yaitu pencarian spesimen nyamuk. Tahun ini kegiatan tersebut dilakukan dalam bentuk kajian fauna nyamuk di daerah endemis malaria yaitu Kecamatan Cibalong Kabupaten Garut. Selain malaria, ternyata di kabupaten Garut terdapat kasus penyakit tular vektor lain, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), Chikungunya dan Filariasis. Kasus penyakit tersebut tidak terlepas dengan adanya keberadaan vektor yang beragam, sehingga Loka Litbang P2B2 sebagai unit pelaksana teknis Litbangkes yang memiliki wilayah kerja Banten dan Jawa barat dipandang perlu untuk melakukan kajian di daerah tersebut. Kajian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai fauna nyamuk dan  dapat dijadikan informasi untuk pengendalian vektor terutama vektor malaria. Selain itu, nyamuk yang didapatkan dapat menambah koleksi Museum Nyamuk di Loka Litbang P2B2 Ciamis. Kajian fauna nyamuk dilaksanakan di 2 desa endemis malaria di Kecamatan Cibalong yaitu Desa Karyamukti dan Desa Maroko yang keduanya memiliki ekosistem yang berbeda. Pengumpulan data akan dilakukan selama 3 kali di tahun 2017 pada bulan-bulan dengan curah hujan tertinggi, sedang dan terendah. Bulan Maret ini dilakukan pengumpulan data tahap pertama.

Pada tanggal 13-17 Maret 2017 kami tim dari Loka Litbang P2B2 Ciamis menuju Kabupaten Garut tepatnya kecamatan Cibalong. Perjalanan Pangandaran ke kabupaten Garut ditempuh dalam  waktu kurang lebih 3,5 jam dengan menggunakan jalur selatan. Kondisi jalan sudah jauh lebih baik dibandingkan 12 yang lalu ketika kami melakukan penelitian malaria di Kabupaten Garut. Itu merupakan waktu tercepat yang ditempuh dibandingkan menggunakan jalur utara melewati kota Tasikmalaya dengan waktu tempuh kurang lebih 7 jam. Kelebihan lain menggunakan jalur selatan, sepanjang perjalanan kami dipertontonkan dengan pemandangan pantai selatan yang begitu indah, sehingga 3 jam berlalu tidak terasa kami sudah sampai di lokasi.

Titik pertama yang kami kunjungi yaitu Desa Karyamukti yang merupakan ekosistem pantai dekat pemukiman. Tempat yang dijadikan lokasi penangkapan berjarak tidak lebih dari 3 Km dari ekosistem tersebut. Sebagai cathing station kami mencari rumah penduduk yang bisa kami gunakan untuk tempat identifikasi, kebetulan di desa ini sudah ada pencahayaan listrik dari PLN, jadi tidak repot lagi untuk menggunakan pencahayaan lain. Sore hari kami melakukan pemeriksaan jentik di tempat-tempat yang diduga sebagai habitat perkembangbiakan nyamuk baik di pemukiman maupun di lingkungan sekitar, misalnya di sawah, genangan air, ketiak daun, tempurung kelapa, sungai yang mengering dan lagun. Tempat-tempat yang positif jentik dilakukan plotting untuk dapat memetakan keberadaan jentik di tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk. Jentik yang didapatkan dipelihara sampai menjadi nyamuk untuk selanjutnya diidentifikasi. Dari tempat perkembangbiakan tersebut larva yang berhasil diidentifikasi yaitu Culex sp, Anopheles sp. Menjelang malam pukul 18.00 sudah mulai dilakukan penangkapan nyamuk sampai dengan pukul 06.00 pagi. Penangkapan nyamuk dilakukan dengan umpan orang di dalam dan luar rumah dengan bantuan kolektor yang berasal dari penduduk setempat.  Waktu penangkapan nyamuk 45 menit untuk setiap jamnya. Selain itu penangkapan dilakukan di sekitar ternak yaitu dekat kandang ternak milik penduduk dan di dalam Animal-baited trap net (ABT) yang telah ada sapi atau kerbau di dalamnya. Waktu penangkapan nyamuk sekitar ternak, setiap jam hanya dilakukan 15 menit. Nyamuk yang tertangkap dipreparasi untuk diidentifikasi, dibuat pinning untuk koleksi spesimen. Hasil penangkapan kemudian dicatat pada form penangkapan nyamuk. Nyamuk yang didapatkan di desa Karyamukti sangat berlimpah dan beragam, sehingga proses identifikasi dilanjutkan pagi harinya. Nyamuk Anopheles yang tertangkap dibedah untuk mengetahui umur relatifnya.

Setelah penangkapan nyamuk di Desa Karyamukti dilanjutkan lagi di desa Maroko yang merupakan ekosistem non hutan. Kebanyakan orang membayangkan Maroko adalah nama Negara di benua Afrika yang terkenal dengan keindahan alamnya, ternyata di Kabupaten Garut ada nama desa Maroko yang tidak kalah akan keindahannya. Desa ini berada di daerah yang terdapat aliran sungai yang jernih, luasnya perkebunan karet  dan perkebunan lainnya juga pesawahan yang terhampar luas. Namun jalan menuju desa Maroko tidak begitu bagus, tanpa aspal dengan batu-batu yang besar dan tanah merah yang licin. Apalagi ketika kami kesana, sebelumnya telah turun hujan, sehingga waktu tempuh untuk menuju ke desa Maroko kurang lebih 3 jam, yang seharusnya 0,5 jam sudah sampai lokasi. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Kami harus tetap semangat karena ini titik terakhir untuk penangkapan nyamuk, meski di tengah perjalanan mobil yang kami tumpangi sempat tidak bisa maju karena terhambat bebatuan. Berbagai cara dilakukan dari mulai mendorong, memasang dongkrak sampai mengangkat mobil, tetapi akhirnya mobil bisa melaju perlahan dan kami sampai di tempat yang dijadikan cathing station untuk penangkapan nyamuk.

Metode penangkapan nyamuk di desa Maroko sama dengan yang dilakukan di desa Karyamukti. Ekosistem di desa Maroko berupa perkebunan, pekarangan rumah, sawah, ladang, belukar, maupun kebun. Jentik nyamuk yang ditemukan banyak dari pesawahan dan genangan air di pinggir sungai. Tidak lupa tempat-tempat perindukan yang positif jentik dilakukan plotting. Pemeriksaan jentik di tempat yang diduga sebagai habitat perkembangbiakan nyamuk tidak dapat dilakukan sampai selesai, karena saat itu hujan turun sangat lebat, sehingga kami menghentikan pencarian jentik. Menjelang malam tiba seperti biasa kami mempersiapkan untuk penangkapan nyamuk yang akan dilakukan sampai pagi. Setiap jamnya nyamuk yang didapatkan tidak sebanyak yang ditemukan di Desa Karyamukti, mungkin ini dikarenakan hujan besar sebelum dimulainya penangkapan nyamuk. Setiap kolektor rata-rata hanya mendapatkan 4-10 ekor nyamuk.  Semakin malam larut sampai menjelang pagi nyamuk yang didapatkan juga berkurang, karena mulai tengah malam hujan turun lebat disertai dengan angin. Apalagi di dalam ABT setiap jamnya hanya didapatkan 0-2 nyamuk. Namun penangkapan nyamuk terus dilakukan sampai pukul 06.00 meski sampai pagi diguyur hujan. Pagi hari menjelang siang, setelah semuanya selesai kami kembali ke kantor Loka Litbang P2B2 Ciamis dengan membawa oleh-oleh koleksi nyamuk.