Dukungan Data Ketenagaan Kesehatan Lewat Riset


May 2, 2017

Bekasi — Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes)  Siswanto secara resmi membuka acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Tingkat Pusat Riset Kesehatan Nasional Tahun 2017 dengan agenda Sosialisasi dan Penyusunan Perencanaan Pelaksanaan Riset Ketenagaan di Bidang Kesehatan (Risnakes). Acara melibatkan stakeholders terkait baik yang ada di pusat dan daerah (Provinsi). Hadir dalam pertemuan perwakilan lintas sektor seperti Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) dan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (Arsada).

Dinas Kesehatan (Dinkes)  Provinsi yang nantinya menjadi lokasi penelitian tampak dalam pertemuan seperti perwakilan Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Bengkulu, Jawa Tengah, Jambi, Lampung, serta Banten. Acara dihelat di Bekasi berlangsung selama 3 hari mulai Senin hingga Rabu (17-19 April 2017).

Dalam sambutannya Kepala Balitbangkes menerangkan pelaksanaan Risnakes dibagi ke dalam lima Koordinator Wilayah (Korwil) dan melibatkan daerah (dinas kesehatan). Untuk itu Siswanto berharap dukungan dinas kesehatan baik dari Provinsi serta Kabupaten/Kota khususnya terkait komitmen, persiapan lapangan, serta sosialisasi.

“Sosialisasi menjadi penting agar pelaksanaan riset menjadi lancar”, lanjut Siswanto. Untuk itu Dinkes dapat melakukan sosialisasi kepada Rumah Sakit dan Puskesmas yang menjadi lokus penelitian.

Peran dinkes dapat menjadi liason atau penghubung antara Korwil dan tim peneliti dengan lokus penelitian. Selain itu dapat berperan dalam dukungan operasional seperti terlibat dalam entry meeting sebelum dan selama pengumpulan data, membantu kendala-kendala di lapangan sekaligus memberikan dukungan administrasi.

Kepala Badan PPSDM Usman Sumantri yang hadir sebagai salah satu narasumber menyampaikan dukungannya dalam kegiatan Risnakes 2017. Dukungan diberikan dalam bentuk penyediaan data SDM Kesehatan untuk pengembangan instrumen penelitian berdasarkan kebutuhan program pengembangan dan pendayagunaan SDM Kesehatan. Termasuk dukungan SDM yang dapat direkrut dari Pusat maupun Poltekkes yang saat ini berjumlah 38.

“Hasil analisis dari riset ini dapat menjadi kebijakan yang dapat digunakan secara bersama-sama”, harap Usman.

Kepala Pusat Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan Nana Mulyana menerangkan Risnakes diadakan dilandasi salah, karena adanya permasalahan terkait perlunya dukungan data yang memadai mengenai ketenagaan di bidang kesehatan baik di puskesmas dan rumah sakit untuk menunjang pengambilan keputusan ketenagaan kesehatan yang berdasarkan bukti.

Manfaat penelitian menurut Nana Mulyana dapat dilakukan pemetaan tenaga di bidang kesehatan baik yang ada di rumah sakit dan Puskesmas. Dapat juga dimanfaatkan sebagai dasar penetapan kebutuhan dan redistribusi. Peran dinkes di provinsi/kabupaten/kota untuk mengatasi persoalan yang ada dapat dibuat menjadi lebih tajam. “Tak kalah pentingnya  untuk formulasi Kebijakan”, tegas Nana Mulyana.

Ruang lingkup penelitian ada dua yaitu bagaimana riset ini ingin melihat sdm di seluruh puskesmas dan rumah sakit (RS Umum dan RS Khusus, RS Pemerintah dan RS Swasta) di seluruh Indonesia. Khusus untuk ketanggapan dan produktivitas tenaga di bidang kesehatan akan dilakukan time study. Pengumpulan data dilakukan secara sub sampel terhadap RS dan puskesmas yang terpilih secara acak sesuai dengan besar sampel yang telah ditetapkan.

Acara Rakornis selain paparan dari narasumber terkait, dilanjutkan dengan pertemuan diantara Korwil dengan dinas kesehatan provinsi terkait. Untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang menjadi acuan dalam penyusunan anggaran pelaksanaan riset di daerah dan pembagian peran antara tim pusat dan daerah. (ali,ilal)