“Bersahabat” dengan Nyamuk


KASUS demam berdarah dengue (DBD) meningkat cukup signifikan pada awal tahun 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Barat, hingga pekan ketiga Januari 2019, terdapat 1.085 kasus DBD di serata Jawa Barat, 8 di antaranya meninggal dunia. Pada periode yang sama tahun 2018, tercatat 969 kasus, 4 di antaranya meninggal dunia. (Pikiran Rakyat, 30 Januari 2019).

NYAMUK termasuk phylum arthropoda. Pada daerah tropis seperti Indonesia, hidup berbagai jenis nyamuk, baik nyamuk sebagai vektor penular penyakit maupun nyamuk yang bukan vektor penular penyakit.

Terkadang kita sebagai manusia memandang nyamuk sebagai serangga yang biasa-biasa saja. Tapi dibalik itu semua, ternyata nyamuk adalah sebagai vektor penular penyakit yang bisa mengakibatkan atau menimbulkan orang sakit dan menjadi wabah atau kejadian luar biasa.

Bila dilihat dari segi bentuknya, nyamuk adalah serangga kecil. Semua serangga termasuk nyamuk, dalam siklus hidupnya mempunyai tingkatan tertentu dan terkadang tingkatan itu antara satu serangga yang satu dengan lainnya berbeda.

Semua nyamuk mengalami metamorfosa yang sempurna, mulai dari telur, jentik, kepompong atau pupa dan terakhir menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk adalah serangga yang dikelompokan dalam kelas insekta dan mempunyai proses yang dipengaruhi oleh suhu disekitarnya. Misalnya suhu optimum untuk perkembangan nyamuk antara 25-270C. Dan bila suhu di bawah 100C dan suhu di atas 400C perkembangan nyamuk akan berhenti.

Begitu pula dengan siklus perkembangan telur, pertumbuhan, penyebaran dan umur nyamuk bisa dipengaruhi oleh kelembaban. Serangga seperti nyamuk sangat rentan terhadap kelembaban rendah.

Nyamuk dikenal memiliki dua macam kehidupan yaitu kehidupan di dalam air dan kehidupan di luar air. Nyamuk ini salah satu serangga yang melangsungkan siklus hidupnya di air. Air mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan nyamuk. Sebab bila tidak ada air, maka kelangsungan hidup nyamuk akan terputus. Tanpa air, stadium pradewasa tidak akan mampu untuk bertahan hidup dan berkembang menjadi stadium dewasa.

Nyamuk dewasa meletakkan telurnya di permukaan air. Telur menetas menjadi jentik, selama periode jentik dalam pertumbuhannya mengalami 4 fase pergantian kulit. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan jentik menjadi pupa sekitar 8-10 hari. Itu juga tergantung suhu, makanan dan spesies nyamuk. Setelah 8-10 hari jentik akan berubah menjadi pupa. Pada fase pupa merupakan fase istirahat dan tidak makan.

Pada proses stadium pupa terjadi pembentukan alat-alat tubuh nyamuk dewasa seperti alat kelamin, sayap dan kaki. Pada fase pupa ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari. Dan setelah itu dari pupa akan keluar menjadi nyamuk dewasa yang dapat dibedakan antara nyamuk jantan dan betina.

Rahasia Penciptaan Nyamuk

RAHASIA apa di balik penciptaan seekor nyamuk? Secara biologi, nyamuk itu tergolong serangga yang memiliki sifat spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia. Nyamuk ini menjadi sorotan manusia, manakala ia telah membikin ulah. Sekali berulah, misalnya menyebarnya kasus demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis dan chikungunya di suatu daerah, maka semua orang dibuat takut dan gelisah.

Ibarat seorang sahabat, nyamuk hidup begitu dekat dan berdampingan dengan manusia. Mereka siap kapan saja berkunjung dan bertamu ke rumah manusia. Bedanya dengan manusia, bila sahabat kita yang berkunjung biasanya membawa makanan, nyamuk bila bertamu justru akan mengganggu kita melalui bunyi kepakan sayapnya dan gigitan saat mengisap darah.

Atas dasar itulah, sesungguhnya kita dapat mencegah kehadiran nyamuk. Caranya? Dengan memahami (bersahabat) kebiasaan dan perilaku nyamuk itu sendiri. Misalnya, bagaimana cara nyamuk bertelur, berubah dari telur ke jentik, pupa, dan menjadi dewasa. Termasuk di dalamnya, bagaimana kebiasaan nyamuk-nyamuk itu menggigit dan mengisap darah manusia.

Nyamuk ini sebagai perantara penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit DBD disebabkan virus dengue; malaria oleh Plasmodium spp.; filariasis penyebabnya cacing filaria; dan chikungunya penyebabnya adalah virus chikungunya.

Fakta tersebut mengajarkan agar kita tidak boleh meremehkan nyamuk. Ia merupakan bahasa kehidupan. Keberadaannya akan memberi banyak arti bagi mereka yang mau belajar darinya.

Untuk itu, semakin kita bersahabat dengan nyamuk, maka paling tidak kita mampu memahami habitat dan kebiasaannya, sehingga kita dapat menghindari penyakit yang dibawanya.

Nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk.Seberapa pun gigihnya kita melakukan pengendalian terhadap (vektor) nyamuk, bila perilaku hidup bersih dan sehat masyarakatnya yang tidak mendukung, maka keberadaan nyamuk itu akan tetap menjadi ancaman (masalah) dikemudian hari. Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, itulah kunci dalam pengendalian terhadap nyamuk.

Seputar dunia nyamuk, inilah isi yang ditawarkan dari buku: "BERSAHABAT DENGAN NYAMUK: Jurus Jitu Atasi Penyakit Bersumber Nyamuk."***

Arda Dinata,  Bagian Program Kerjasama, Jarlitbangkes, Jaringan Informasi Ilmiah, dan Kehumasan Loka Litbangkes Pangandaran, Balitbangkes Kemenkes RI.